Makalah Ilmu Makkiyah wa Madaniyah

Category : Kumpulan Makalah
Makalah Ilmu Makkiyah wa Madaniyahby adminon.Makalah Ilmu Makkiyah wa MadaniyahPENDAHULUAN Surat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di makkah Selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke 14 dari kelahiran Nabi      (6 Agustus 610 M) sampai tanggal 1 Rabi’ul awwal tahun ke 54 dari kelahiran Nabi. Dan suratnya pendek. Surat Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Nabi Muhammad SAW […]
  • PENDAHULUAN
Surat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan di makkah Selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke 14 dari kelahiran Nabi      (6 Agustus 610 M) sampai tanggal 1 Rabi’ul awwal tahun ke 54 dari kelahiran Nabi. Dan suratnya pendek. Surat Madani adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, terhitung sejak Nabi hijrah ke Madinah sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi. Dan surat-suratnya panjang-panjang.  
  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Apa pengertian surat Makkiyah dan Madaniyah?
  3. Apa saja macam-macam surat Makkiyah dan Madaniyah?
  4. Apa perbedaan surat Makkiyah dan Madaniyah?
  5. Apa ciri-ciri makkiyah dan madaniyah?
  6. Apa faedah mengetahui makki dan madani?
  1. PEMBAHASAN
  2. Pengertian surat Makkiyah dan Madaniyah
Surat/Ayat Makkiyah adalah segala ayat yang diturunkan di Mekkah, termasuk di daerah-daerah sekitar Mekkah seperti Arafah, Hudaibiah, dan lain-lain. Makkiyah juga segala ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah, sekalipun turunnya di Madinah. Selain itu, bentuk ayat Makkiyah berisi pembicaraan tentang penduduk Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Surat/Ayat Madaniyah adalah segala ayat yang turun di Madinah, ataupun yang turun di sekitar Madinah seperti Badar, Uhud, dan lain-lain. Madaniyah juga dapat diartikan segala ayat yang turun setelah Rasulullah hijrah sekalipun turunnya di Mekkah. Madaniyah segala ayat yang isi pembicaraannya ditujukan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya. Dalam memberikan kriteria bagianmana yang termasuk makki dan mana yang termasuk madani itu, atau di dalam mendefinisikan masing-masingnya, ada beberapa teori yang berbeda-beda, karena perbedaan orientasi yang menjadi dasar tinjauan masing-masing. Sedikitnya ada empat teori dalam menentukan kriteria untuk memisahkan nama bagian Al-Qur’an yang Makki atau surah/ayat yang Makkiyah, dan mana bagian yang Madani atau surah/ayat yang Madaniyah. Teori-teori itu ialah sebagai berikut:
  1. Teori Mulaahazhatu Makanin Nuzuli (teorigeografis), yaitu teori yang berorientasi pada tempat turun Al-Qur’an atau tempat turun ayat.
Teori ini mendefinisikan Makki dan Madani, sebagai berikut: Al-Qur’an Makki atau surah/ayat Makiyah ialah yang turun di Mekah dan sekitarnya, baik waktu turunnya itu Nabi Muhammad SAW belum hijrah ke Madinah atau pun sesudah hijrah. Termasuk kategori Makki atau Madaniyah menurut teori ini ialah ayat-ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau berada di Mina, Arafah, Hudaibiyah, dan sebagainya. Al-Qur’an Madani atau surah/ayat Madaniyah ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya. Termasuk Madani atau Madaniyah menurut teori geografis iniialah ayat-ayat atau surah yang turun kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu beliau di Badar, Qubq, Madinah, Uhud, dan lain-lain. Kelebihan dari teori geografis ini ialah hasil rumusan pengertian Makki dan Madani ini jelas dan tegas. Jelas, bahwa yang dinamakan Makki adalah ayat atau surah yang turun di Mekkah. Tetap di namakan Makki, meski ayat atau surah turun di Mekkah itu sesudah Nabi hijrah ke Madinah. Hal ini berbeda dengan rumusan toeri lain, yaitu teori historis, bahwa ayat atau surah yang turun sesudah Nabi hijrah itu dimasukkan kategori Madani, meski turunnya di Mekkah atau di sekitarnya. Kelemahan dari teori geografis ini ialah rumusannya tidak bisa dijadikan patokan, batasan atau definisi. Sebab, rumusannya itu belum bisa mencakup seluruh ayat Al-Qur’an, karena tidak seluruh ayat Al-Qur’an itu hanya turun di Mekkah dan sekitarnya atau di Madinah dan sekitarnya. Kenyataannya, ada beberapa ayat yang turun diluar kedua daerah tersebut. Misalnya seperti ayat berikut ini: “Dan kalau yang kamu serukan (kepada mereka) itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak jauh, tentu mereka itu akan mengikuti kamu.” (At-Taubah:42) Dengan demikian, teori geografis itu kelemahannya sangat kelihatan.
  1. Teori Mulaahazhatul Mukhaathabiina Fin Nuzuuli (teori subjektif), yaitu teori yang berori entasi pada subjek siapa yang dikhitab atau dipanggil dalam ayat. Jika subjeknya orang-orang Mekkah maka ayatnya dinamakan Makiyah. Dan jika subjeknnya orang-orang Madinah maka ayatnya disebut Madaniyah.
Menurut teori subjektif ini, yang dinamakan Qur’an Makki atau surah/ayat Makiyah ialah yang berisi khithab atau panggilan kepada penduduk Mekkah dengan memakai kata-kata: “Yaa Ayyuhan Naasu” (wahai manusia) atau “Yaa Ayyuhal Kaafiruuna” (wahai orang-orang kafir) atau “Yaa Banii Aadama” (hai anak cucu Nabi Adam), dan sebagainya. Sebab, kebanyakan penduduk Mekkah adalah orang-orang kafir, maka dipaggil dengan wahai orang-orang kafir atau wahai manusia, meski orang-orang kafir dari lain-lain daerah ikut dipanggil juga. Sedangkan yang dimaksud dengan Qur’an Madani atau surah dan ayat Madaniyah ialah yang berisi panggilan kepada penduduk Madinah. Semua ayat yang dimulai dengan nida’ (panggilan): “Yaa Ayyuhal Ladzina Aamanuu” (wahai orang-orang yang beriman) adalah termasuk ayat atau surah Madaniyah. Sebab, mayoritas penduduk Madinah adalah mukminin, sehingga dipanggil dengan wahai orang-orang beriman, meski sebenarnya kaum mukminin dari daerah-daerah lain juga ikut terpanggil pula. Kelebihan dari teori subjektif ini ialah rumusannya lebih mudah dimengerti. Sebab, dengan memakai kriteria khithab atau nida’ lebih tampak dan lebih cepat dikenal. Ayat yang dimulai dengan nida’: “Yaa Ayyuhan Naasu” atau “Yaa Ayyuhal Kaafiruuna” jelas menunjukkan ayat Makiyah, dan yang dimulai dengan: “Yaa Ayyuhal Ladziina Aamanu” jelas menunjukkan ayat Madaniyah. Sebab, memangsudah bahwa orang-orang Madinah adalah kebanyakan beriman. Tetapi kelemahan dari teori subjektif ini lebih banyak dari pada teori-teori yang lain. Sedikitnya, teori ini mempunyai dua kelemahan sebagai berikut:
  1. Rumusan pengertiannya tidak dapat dijadikan batasan atau definisi, karena tidak bisa mencakup seluruh ayat Al-Qur’an. Sebab, dari seluruh ayat Al-Qur’an 6236 ayat itu, yang dimulai dengan nida’ (panggilan) menurut penelitian penulis, hanya 511 ayat saja.
  2. Rumusan kriterianya juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh, bahwa semua ayat yang dimulai dengan: “Yaa Ayyuhal Ladzina Aamanu” itu tentu Madaniyah. Karena itu, teori ini tidak mudah dipegangi dan tidak dapat dipertangungjawabkan. Sebab, ternyata ada beberapa ayat yang dimulai dengan nida’: “Yaa Ayyuhan Naasu” itu bukan Makiyah, melainkan Madaniyah. Contohnya seperti ayat sebagai berikut:
  1. Teori Mulahazhatu Zamaanin Nuzuuli (teorihistoris), yakni teori yang berorientasi pada sejarah waktu turunny Al-Qur’an. Yang dijadikan tonggak sejarah oleh teori ini ialah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinyah.
Pengertian Makiyah menurut teori ini, ialah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah, meski turunnya ayat itu di luar kota Mekkah, sepert iayat-ayat yang turun di Mina, Arafah, Hudaibiyah, ialah ayat-ayat yang turun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, meski turunnya di Mekkah atau sekitarnya, seperti ayat-ayat yang diturunkan di Badar, Uhud, Arafah, danMekkah. Kelebihan dari teori historis ini, dinilai para ulama sebagai teori yang benar, baik dan selamat. Sebab, rumusan teori ini mencakup keseluruhan ayat Al-Qur’an, sehingga dapat dijadikan batasan atau definisi. Memang, tidak ada sedikitpun ayat atau bagian Al-Qur’an yang tidak tercakup dalam rumusan teori ini. Tidak ada yang keluar dari batasan turun sebelum atau sesudah hijrah Nabi Muhammad SAW. Semua ayat Al-Qur’an itu kalau tidak turun sebelum hijrah, pasti turun setelah hijrah. Tidak ada seorang pun yang menilai teori historis ini jelek atau lemah, semua memuji dan hanya menyebutkan kelebihan-kelebihannya. Menurut pengamatan penulis, sebetulnya teori historis ini memang sudah baik, tetapi masih juga ada sedikit kelemahannya. Yakni, seringkali mengakibatkan kejanggalan-kejanggalan. Sebab, beberapa ayat Al-Qur’an yang nyata-nyata turun di Mekkah, tetapi hanya karena turunnya itu setelah hijrah, lalu tetap dianggapMadaniyah.
  1. Teori Mulahazhatu Ma Tadhammanat As-Suuratu (teori content analysis), yaitu suatu teori yang mendasarkan kriterianya dalam membedakan Makiyah dan Madaniyah kepada isi dari pada ayat atau surah yang bersangkutan.
Yang dinamakan Makiyah menurut teori content analysis ini ialah surah atau ayat yang berisi cerita-cerita umat dan para Nabi atau Rasul dahulu. Sedang yang disebut Madaniyah adalah surah atau ayat yang berisi hukum hudud, faraid, dan sebagainya. Kelebihan dari teori content analysis ini adalah, bahwa kriterianya jelas, sehingga mudah difahami, sebab gampang dilihat orang. Orang tinggal melihat saja tanda-tanda tertentu itu, Nampak atau tidak dalam sesuatu surah atau ayat, sehinnga dengan demikian dia mudah menentukannya. Kelemahannya, pelaksanaan pembedaan Makiyah dan Madaniyah menurut teori ini tidak praktis. Sebab, orang harus mempelajari isi kandungan masing-masing ayat dahulu, baru bisa mengetahui kriteriannya atau kategorinya.[1]
  1. Macam-macam surat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama berbeda pendapat dalam (menghitung) jumlah surat Madaniyah. suyuthi telah mengutip dari Ibnu al-Hashshar, bahwa Madaniyah terdiri dari 20 surat, 12 surat di perselisihkan dan lainnya Makkiyah (suyuthi, I, 1343/1370):11). a). Surat-surat Madaniyah yang 20 Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa surat Madaniyah terdiri atas dua puluh surat,maka yang perlu diketahui disini adalah suratapa saja yang termasuk didalamnya.
  1. Al-Baqarah 11. Al-Hujurut
  2. Ali Imron 12. Al-Hadid
  3. An-Nisa’ 13. Al-Mujadilah
  4. Al-Ma’idah 14. Al-Hasyar
  5. Al-Anfal 15. Al-Mumtahanah
  6. At-Taubat 16. Al-Jum’ah
  7. An-Nur 17. Al-Munafiqun
  8. Al-Ahzab 18. At-thalaq
  9. Muhammad 19. At-Tahrim
  10. Al-Fath 20. An-Nashr
  1. b) Surat yang Diperselisihkan ada 12
  2. Al-Fatihah Al-Qadar
  3. Ar-Ra’d Al-Bayyinah
  4. Ar-Rahman Az-Zilzalah
  5. Ash-Shaf Al-Ikhlash
  6. At-Taghabun Al-Falaq
  7. At-Tathfif An-Nas
  1. c) Surat-surat Makkiyah
Sedangkan yang dimaksud dengan surat Makkiyah adalah selain surat-surat yang disebutkan diatas, berjumlah 92 (Sembilan puluh dua) surat.[2]
  1. Perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah
Untuk membedakan surat Makkiyah dan Madaniyah, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri.
  1. Dari segi waktu turunny. Makki adalah yang diturunkankan sebelum hijrah meskipun bukan di Mekah. Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Medinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekah atau Arafah, adalah Madani seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Mekah, misalnya firman Allah:
“sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak..” an-Nisa’(58)
  1. Dari segi tempat turunnya. Makki ialah yang turun di makah dan sekitarnya, seperti: Mina, Arafah, dan Hudabiyah. Dan madani ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti: Uhud, Quba, Sil’. Pendapat ini mengakibatkan tidak adannya pembagian secara konkrit secara mendua, sebab yang turun dalam perjalanan, di Tabuk atau Baitul Makdis tidak termasuk kedalam salah satu bagiannya, sehingga ia tidak dinamakan Makki dan tidak dinamakan Madani. Juga mengakibatkan bahwa yang di turunkan di Makah sesudah hijrah disebut Makki.
  2. Dari segi sasarannya, Makki adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Mekah dan Madani adalah yangseruannya ditujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini, para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang mengandung seruan “Ya Ayyuhan nas” (wahai manusia) adalah Makki. Sedangkan ayat yang mengandung seruan “Ya Ayyuhal Ladzina Amanu” (wahai orang-oang yang beriman) adalah Madani.
Namun melalui pengamatan cermat, namapak bagi kita bahwa kebanyakan surah Qur’an tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan itu. Dan ketentuan demikian pun tidak konsisten. Misanya surah Al-Baqarah itu Madani, tetapi didalamnya terdapat ayat : “wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah:21), dan firman-Nya: “wahai manusia, makanlah makanan yang halal dan baik dari apa yang terdapat di Bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah:168) Dan surah Al-Baqarah itu Madani, tetapi permulaannya “Ya Ayyuhan Nas” surat Al-Hajj, Makki, tetapi didalamnya terdapat juga: “wahai orang-orang yang beriman, rukunlah, kamu sujudlah kamu dan beribadahlah kepada Tuhanmu serta perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapatkan kemenangan.” (Al-Hajj:77) Al-Qur’anul karim adalah seruan Illahi terhadap semua makhluk. Ia dapat saja menyeru orang yang beriman dengan sifat, nama atau jenisnya. Begitu pula orang yang tidak beriman dapat diperintah untuk beribadah, sebagaimana orang yang beriman diperintahkan konsisten dan menambah ibadahnya.[3]
  1. Ciri-ciri surat Makki dan Madani
Para ulam telah meneliti surat-surat Makki dan Madani . dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya,yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut.
  1. Ketentuan Makki dan Ciri Khas Temannya
  2. Setiap surah yang didalamnya mengandung “sajdah” maka surat itu Makki.
  3. Setiap surah yang mengandung lafal kalla,berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Al-Qur’an. Dan disebutkan sebannyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat.
  4. Setiap surah yang mengandung ya ayyuhan nasdan tidak mengandung ya ayyuhal lazinaamanur-ka’u wasjudu. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah Makki.
  5. Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surat Baqarah.
  6. Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surat Baqarah.
  7. Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkat, seperti: Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dan lain-lainnya adalah Makki. Kecuali surat Baqarah dan Ali ‘Imran. Sedangkan surat Ra’d masih diperselisihkan.
Ini adalah dari segi ketentuan, sedangkan dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut:
  1. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hannya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dari hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surge dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat
  2. Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi-tradisi buruk lainnya.
  3. Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasip orang yang mendustakan sebelum mereka dan sebagai hiburan buat Rasulullah sehingga ia tabah dalam enghadapi ganguan mereka dan yakin akan menang.
  4. Suku katanya pendek-pendek dan disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataan singkat, ditelinga sangat menembus dan sangat keras, mengetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti: surah-surah pendek. Dan perkecualinnya hannya dikit.
  5. Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya
  6. Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.
  7. Setiap surah yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali al-Ankabut adalah Makki.
  8. Setiap surah yang didalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.
Ini dari segi ketentuan, sedangkan dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapatlah diringkaskan sebagai berikut:
  1. Menjelaskan ibadah, Muamalah, Had, Kekeluargaan, Warisan, Jihad, Hubungan Sosial, Hubungan Internasional, baik diwaktu damai maupun diwaktu perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
  2. Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalanga Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab Allah, Permusuhan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesame mereka.
  3. Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
  4. Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.
  1. Faedah mengetahu Maki dan Madani.
Pengetahuan tentang maki dan madani banyak faedahnya, diantaranya:
  1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qura’n, sebab pengetahuan mengenai tempat turunya ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkanya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalh pengertin umum lafaz sebab yang khusus.
  2. Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkanya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab situasi merupakan bahasa tersendiri
  3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an turunya wahyu kepada rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada priode mekkah maupun priode madinah, sejak permulaan turun wahyu hi8ngga ayat terakhir turun.[4]
  1. KESIMPULAN
  2. Pengertian surat Makki dan Madani
Surat/Ayat Makkiyah adalah segala ayat yang diturunkan di Mekkah, termasuk di daerah-daerah sekitar Mekkah seperti Arafah, Hudaibiah, dan lain-lain. Makkiyah juga segala ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah, sekalipun turunnya di Madinah. Selain itu, bentuk ayat Makkiyah berisi pembicaraan tentang penduduk Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Surat/Ayat Madaniyah adalah segala ayat yang turun di Madinah, ataupun yang turun di sekitar Madinah seperti Badar, Uhud, dan lain-lain. Madaniyah juga dapat diartikan segala ayat yang turun setelah Rasulullah hijrah sekalipun turunnya di Mekkah. Madaniyah segala ayat yang isi pembicaraannya ditujukan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.
  1. Macam-macam surat Makkiyah dan Madaniyah
  2. Surat-surat Madaniyah yang 20
  3. Surat yang Diperselisihkan ada 12
  4. Surat-surat Makkiyah
  1. Perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama mempunnyain tiga macam pandangan yang masing-masing mempunnyai dasarnya sendiri.
  1. Ciri-ciri surat Makki dan Madani
Para ulam telah meneliti surat-surat Makki dan Madani . dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya,yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut.
  1. Faedah mengetahu Maki dan Madani
[1] Prof.DR.H.Abdul Djalal H.A .Ulumul Qur’an.2000.Dunia Ilmu.Hal. 77-87 [2] DR.Fahd Bin Abdurrahman Ar-Rumi. Ulumul Qur’an.1997.Titian Ilahi Press. Hal 166-167 [3] Manna Khalil Al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.2001. PT.Pustaka Litera Antar Nusa.hal. 86-88 [4] Ibid. Hal. 81-82 dari berbagai sumber

Author: 

Related Posts Makalah Ilmu Makkiyah wa Madaniyah