PEMERIKSAAN FISIK PARU

Category : Materi
PEMERIKSAAN FISIK PARUby adminon.PEMERIKSAAN FISIK PARUPada pemeriksaan paru dokter perlu mempertimbangkan posisi pasien pada pemeriksaan untuk menghindari perubahan posisi yang berulang, pemeriksaan dilakukan dari posisi duduk ke tidur dan duduk kembali. Untuk itu ada baiknya pemeriksaan dimulai dengan memeriksa dinding toraks posterior ketika pasien sedang duduk, dan kemudian dinding toraks anterior pada posisi pasien supinasi. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan prosedur: […]
Pada pemeriksaan paru dokter perlu mempertimbangkan posisi pasien pada pemeriksaan untuk menghindari perubahan posisi yang berulang, pemeriksaan dilakukan dari posisi duduk ke tidur dan duduk kembali. Untuk itu ada baiknya pemeriksaan dimulai dengan memeriksa dinding toraks posterior ketika pasien sedang duduk, dan kemudian dinding toraks anterior pada posisi pasien supinasi. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan prosedur: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada saat pemeriksaan, cobalah untuk memvisualisasikan lobus paru yang mendasari, dan membandingkan satu sisi ke sisi lain, sehingga keadaan asimetri lebih mudah diidentifikasi. Baju pasien juga perlu menjadi perhatian dari dokter. Untuk pria, baju pasien sebaiknya dibuka sehingga dokter dapat melihat seluruh dinding toraks. Bagi wanita, beri selimut untuk menutupi dada depan ketika dokter memeriksa dinding toraks posterior; dan untuk pemeriksaan anterior, selimut berguna untuk menutup setengah dari dinding toraks pada saat dokter memeriksa setengah lainnya. paru-paru, paru-paru berair, paru-paru basah, paru-parong bukid, paru-paru berkuman, paru-parong bukid meaning, paru-paru dunia, paru-paru perokok, paru-paru manusia, paru-paru bocor, paru-paru bengkak,
Gambar.1 : Visualisasi organ paru pada dinding dada anterior
Memposisikan pasien:
  • Pada saat pasien duduk, pemeriksaan dilakukan pada dinding toraks posterior. Lengan pasien dilipat di dada depan dan jika memungkinkan tangan memegang pundak berlawanan. Posisi ini mengarahkan skapula ke lateral dan meningkatkan luas area ke bidang paru-paru. Beberapa ahli menyarankan pemeriksaan dinding toraks anterior juga dilakukan pada saat duduk.
  • Pada saat pasien terlentang (supinasi), pemeriksaan dilakukan pada dinding toraks anterior. Pada pasien wanita lebih mudah untuk memeriksa dinding toraks anterior dalam posisi ini karena payudara dapat dimobilisasi dengan lembut, sehingga memberikan ruang untuk pemeriksaan.
  • Untuk pasien yang tidak bisa duduk, mintalah bantuan perawat untuk menyokong pasien sehingga dinding toraks posterior dapat diperiksa dalam posisi duduk. Jika hal ini tidak mungkin, miringkan pasien ke satu sisi dan kemudian yang lain. Perkusi paru bagian atas, dan auskultasi kedua paru-paru dalam setiap posisi. Karena ventilasi relatif lebih besar di paru-paru tergantung, peluang untuk mendengar mengi abnormal atau ronchi lebih besar pada sisi yang dihimpit.
 

PENILAIAN AWAL PERNAFASAN

Walaupun laju pernapasan telah dihitung ketika mengambil tanda-tanda vital, pada saat dinding toraks telah terekspos lakukan kembali, kali ini beri penilaian pada tingkat, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan. Seorang pasien dewasa yang sehat akan bernafas dengan tenang dan teratur sekitar 14 sampai 20 kali per menit. Nilai juga ekspirasinya, apakah berlangsung lebih lama. Jika pada penilaian awal didapati adanya kesulitan bernafas, lakukan pemeriksaan:
  • Melihat apakah pasien mengalami sianosis. Sianosis menunjukan pada pasien telah terjadi hipoksia. Periksa jari-jari pasien untuk melihat kelainan clubbing finger, perubahan warna pada jari dan kuku seperti Yellow nail syndrome dan jari berwarna tar
  • Dengarkan pernapasan pasien. Apakah ada mengi terdengar?
  • Periksa leher. Selama inspirasi, apakah ada kontraksi otot-otot aksesori? atau retraksi supraklavikula? Apakah trakea berada di garis tengah?
paru-paru, paru-paru berair, paru-paru basah, paru-parong bukid, paru-paru berkuman, paru-parong bukid meaning, paru-paru dunia, paru-paru perokok, paru-paru manusia, paru-paru bocor, paru-paru bengkak,
Gambar.2 : Clubbing finger
 

PEMERIKSAAN DARI DADA POSTERIOR

INSPEKSI TORAKS POSTERIOR
Dari posisi garis tengah di belakang pasien, perhatikan bentuk dada dan bagaimana dada bergerak, beri catatan pada:
  • Simetri ekspansi dada dan deformitas
  • Retraksi sela iga yang abnormal. Retraksi paling jelas dalam interspaces rendah.
  • Gangguan gerakan pernafasan pada satu atau kedua sisi.
PALPASI TORAKS POSTERIOR
Ketika Anda meraba dada, yang perlu diperhatikan, adalah:
  • Mengidentifikasi daerah yang nyeri dan hati-hati meraba daerah di mana ada lesi atau memar.
  • Menilai setiap kelainan yang terlihat seperti massa atau saluran sinus.
  • Uji ekspansi dada. Tempatkan ibu jari setentang iga ke-10, dengan jari-jari mencengkram longgar dan sejajar dengan iga ke arah lateral. Setelah itu, geser tangan ke arah medial untuk membuat 1 lipatan kulit di setiap sisi (antara ibu jari dan tulang belakang). Instruksikan pasien untuk menghirup dalam-dalam. Perhatikan jarak antara ibu jari selama inspirasi, dan rasakan rentang dan simetri dari iga saat inspirasi dan ekspirasi.
paru-paru, paru-paru berair, paru-paru basah, paru-parong bukid, paru-paru berkuman, paru-parong bukid meaning, paru-paru dunia, paru-paru perokok, paru-paru manusia, paru-paru bocor, paru-paru bengkak,
Gambar.3 : Uji ekspansi toraks posterior
  • Menilai fremitus taktil. Fremitus merupakan getaran yang teraba akibat suara yang dijalarkan melalui cabang-cabang bronkopulmoner ke dinding dada saat pasien berbicara. Untuk mendeteksi fremitus, gunakan bola (bagian tulang telapak tangan di pangkal jari) atau permukaan ulnar tangan untuk mengoptimalkan sensitivitas getaran dari tulang-tulang tangan. Instruksikan pasien untuk mengulang kata-kata “sembilan puluh sembilan” atau “tujuh puluh tujuh.” Jika fremitus samar teraba, instruksikan pasien untuk berbicara lebih keras atau dengan suara yang lebih dalam. Pemeriksaan ini dapat menggunakan 1 atau 2 tangan. Menggunakan kedua tangan digunakan untuk membandingkan kedua sisi lapangan paru; beberapa ahli berpendapat sensitivitas antara dua tangan berbeda, pemeriksaan sebaiknya dilakukan saling-silang, bergantian antara kanan dan kiri.
Fremitus biasanya lebih menonjol di daerah interskapula daripada di bidang paru-paru yang lebih rendah, sering lebih menonjol di sisi kanan daripada kiri, dan menghilang di bawah diafragma.
Gambar.4 : Fremitus taktil posterior
Fremitus taktil berguna untuk penilaian awal dari kondisi paru, selanjutnya konfirmasi temuan pada saat auskultasi suara napas.  
PERKUSI TORAKS POSTERIOR
Perkusi adalah salah satu teknik yang paling penting dari pemeriksaan fisik. Perkusi membuat dinding dada dan jaringan di bawahnya bergerak, menghasilkan suara dan getaran. Perkusi membantu menentukan apakah jaringan di bawahnya apakah berisi udara, cairan, atau padat. Getaran perkusi hanya diteruskan 5 cm sampai 7 cm ke dalam dada, perkusi jelek untuk mendeteksi lesi yang dalam. Poin-poin penting perkusi, adalah sebagai berikut:
  • Hyperextend jari tengah tangan kiri, yang dikenal sebagai jari pleximeter. Tekan sendi interphalangeal distal dengan kuat pada permukaan yang akan diperkusi. Hindari bagian lain dari tangan untuk kontak dengan permukaan, karena dapat meredam getaran. Perhatikan bahwa ibu jari dan jari lain tidak menyentuh dada.
  • Posisikan lengan kanan dekat dengan permukaan, dengan tangan bengkok ke atas. Jari tengah harus sebagian tertekuk, santai, dan siap untuk memukul.
  • Dengan cepat, tajam tapi gerak pergelangan tangan santai, pukul jari pleximeter dengan jari tengah kanan, atau jari plexor. Arah tujuannya adalah sendi interphalangeal distal. Pukulan ini akan mengirimkan getaran melalui tulang sendi ini ke dinding dada yang di bawahnya. Gunakan kekuatan yang sama untuk setiap pukulan perkusi dan tekanan pleximeter sama.
  • Memukul yang benar adalah menggunakan ujung jari plexor, bukan telapak buku jari. Kuku harus pendek untuk menghindari melukai buku jari dan pukulan jari yang tidak tegak lurus.
  • Menarik jari yang memukul juga harus cepat, untuk menghindari redaman.
Singkatnya, kunci gerakan ini ada di pergelangan tangan. Pukulan, cepat namun santai, dan ada gerakan memantul pada akhir gerakan (penarikan). paru-paru, paru-paru berair, paru-paru basah, paru-parong bukid, paru-paru berkuman, paru-parong bukid meaning, paru-paru dunia, paru-paru perokok, paru-paru manusia, paru-paru bocor, paru-paru bengkak,
Gambar.5 : Titik-titik perkusi pada toraks posterior
  • Ketika melakukan perkusi pada dada posterior yang lebih rendah, berdiri agak ke samping daripada tepat di belakang pasien. Hal ini memungkinkan Anda untuk menempatkan jari pleximeter dengan lebih tegas di dada dan plexor akan lebih mudah memukul.
  • Untuk membandingkan dua daerah, perkusi di kedua daerah dengan melakukan perkusi dua kali di satu lokasi dan kemudian perkusi dua kali di lokasi pembanding, jika perlu lakukan sekali lagi. Hal ini akan lebih mudah untuk mendeteksi perbedaan daripada melakukan perkusi berulang-ulang dalam satu tempat.
 
MENGIDENTIFIKASI PERGERAKAN DIAFRAGMA
  • Pertama, pada pasien yang bernafas normal, lakukan perkusi lapangan paru untuk mendapatkan perkusi sonor, kemudian lakukan perkusi yang secara bertahap turun ke lapangan paru bawah sampai mendapatkan perkusi beda yang merupakan level diafragma. Dan perkusi dilanjutkan ke bawah untuk memastikan perkusi beda di dapat. Letak level diafragma yang terlalu tinggi atau rendah, mengindikasikan suatu kelainan yang mendasari. Perbedaan level diafragma kanan dan kiri menunjukan adanya efusi pleura di satu lapangan paru.
  • Kedua, dengan mengulangi tahap-tahap langkah pertama, tapi kali ini instruksikan pasien untuk ekspirasi penuh. Dan ulangi pada saat ekspirasi penuh. Perbedaan keduanya mempunyai nilai normal 3 – 5,5 cm.
 
AUSKULTASI TORAKS POSTERIOR
Auskultasi adalah teknik pemeriksaan yang paling penting untuk menilai aliran udara melalui cabang-cabang trakeobronkial. Bersama dengan perkusi, membantu dokter menilai kondisi paru-paru dan rongga pleura. Auskultasi melibatkan :
  1. Mendengarkan suara yang dihasilkan oleh pernapasan
  2. Mendengarkan setiap suara adventif (tambahan)
  3. Jika ada dugaan kelainan, mendengarkan suara suara pasien deangan diucapkan atau berbisik, karena suara itu dirambatkan melalui dinding dada.
Dengarkan suara nafas dengan diafragma stetoskop setelah menginstruksikan pasien untuk bernapas dalam-dalam melalui mulut yang terbuka. Area auskultasi bergerak dari satu sisi ke sisi lain secara simetris. Jika mendengar atau menduga suara yang abnormal, lakukan auskultasi daerah sekitar untuk menilai kelainan. Dengarkan setidaknya satu napas penuh di setiap lokasi. Jika pasien menjadi pusing akibat hiperventilasi, beri pasien waktu untuk mengambil beberapa bernafas biasa. Perhatikan intensitas suara nafas, yang mencerminkan laju aliran udara pada mulut. Suara napas biasanya lebih keras pada bagian yang lebih rendah di paru posterior. Intensitasnya dapat bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Jika suara napas terdengar samar, instruksikan pasien untuk bernapas lebih dalam. Pernapasan dangkal atau dinding dada yang tebal bisa mengubah intensitas bunyi napas. Jika mendengar suara napas tambahan, catat karakteristiknya:
  • kekuatan, nada, dan durasi, halus atau kasar
  • jumlah
  • pada siklus pernapasan inspirasi atau ekspirasi
  • Lokasi di dinding dada
  • Pola
  • Perubahan setelah pasien diinstruksikan batuk atau perubahan posisi pasien
PENJALARAN SUARA PASIEN
Dengan stetoskop, lakukan auskultasi dengan metode yang sama, kali ini instruksikan pasien untuk mengeluarkan suara:
  • Instruksikan pasien untuk mengatakan “sembilan puluh sembilan” atau “ee”. Normalnya, suara ditransmisikan ke dinding dada sebagai suara yang teredam dan tidak jelas.
  • Selanjutnya dengan metode yang sama lakukan pemeriksaan, kali ini instruksikan pasien berbisik. Suara bisik normal akan terdengar samar-samar dan tak jelas.
 

PEMERIKSAAN DINDING DADA ANTERIOR

Untuk pemeriksaan dada anterior, pasien berada di posisi supine, dan pasien rebah dengan tangan sedikit abduksi. Jika pasien mengalami kesulitan napas, lebih baik dilakukan pemeriksaan pada posisi duduk atau setengah duduk.
INSPEKSI TORAKS ANTERIOR
Amati bentuk dada pasien dan gerakan dinding dada:
  • Cacat atau asimetri
  • Retaksi abnormal selama inspirasi dari sela iga pada lapangan paru bawah. Retraksi supraklavikula dapat dengan mudah terlihat.
  • Keterlambatan napas lokal atau penurunan gerakan pernapasan
 
PALPASI TORAKS ANTERIOR
Palpasi berguna untuk:
  • Identifikasi daerah nyeri
  • Penilaian lebih lanjut dari kelainan yang diamati sebelumnya (saat inspeksi)
  • Penilaian ekspansi dada lebih lanjut. Tempatkan ibu jari sejajar dengan iga, posisi tangan dan jari-jari lain di arah lateral sepanjang tulang rusuk. Selanjutnya, geser kedua tangan sedikit ke arah medial untuk mengangkat lipatan kulit antara kedua ibu jari. Instruksikan pasien untuk menghirup dalam-dalam. Amati seberapa jauh ibu jari memisah saat dada mengembang, dan identifikasi simetri gerakan pernapasan dan ekspansi pernafasan.
paru-paru, paru-paru berair, paru-paru basah, paru-parong bukid, paru-paru berkuman, paru-parong bukid meaning, paru-paru dunia, paru-paru perokok, paru-paru manusia, paru-paru bocor, paru-paru bengkak,
Gambar.3 : Uji ekspansi toraks anterior
  • Penilaian fremitus Bandingkan kedua sisi dada menggunakan bola atau ulnaris permukaan tangan Anda. Fremitus biasanya menurun atau tidak terasa di atas prekordium. Ketika memeriksa seorang wanita, lembut memposisikan payudara untuk mendapatkan area pemeriksaan yang diperlukan.
 
PERKUSI TORAKS ANTERIOR
Perkusi dada anterior dan lateral, dan bandingkan kedua lapangan paru. Jantung biasanya menghasilkan perkusi beda di sebelah kiri sternum dari sela iga ke-3 sampai ke-5. Pada seorang wanita, untuk mendapatkan area perkusi, geser dengan lembut payudara dengan tangan kiri. Atau, dapat menginstruksikan pasien untuk menggeser payudaranyasendiri. Identifikasi daerah dengan perkusi yang abnormal.
AUSKULTASI TORAKS ANTERIOR
Dengarkan dada anterior dan lateral saat pasien bernafas melalui mulut yang terbuka, dan instruksikan menarik napas lebih dalam dari biasanya. Catat intensitas suara napas dan identifikasi setiap variasi dari pernapasan vesikular normal. Suara napas biasanya lebih keras di lapangan paru anterior atas. Suara napas Bronchovesicular dapat terdengar lebih keras pada saluran udara besar, terutama di sebelah kanan. Identifikasi suara adventif (tambahan), kapan suara tersebut terdengar, dan lokasi suara. Lakukan juga pemeriksaan suara yang ditransmisikan.  

REFERENSI

  1. Benbassat J, Baumal R. Narrative Review: Should Teaching of the Respiratory Physical Examination Be Restricted Only to Signs with Proven Reliability and Validity? J Gen Intern Med. 2010; 25(8): 865–72.
  2. Meyer KC. Diagnosis and management of interstitial lung disease. Transl Respir Med. 2014; 2: 4.
  3. Zhi X, Wu Y, Bu H, et al. Chinese guidelines on the diagnosis and treatment of primary lung cancer (2011). J Thorac Dis. 2012; 4(1): 88–101.
  4. Pardee NE, Winterbauer RH, Morgan EH, et al. Determination of mortality risk in obstructive pulmonary syndromes: physical examination compared with measurement of forced expired volume in one second. Thorax. 1981; 36(12): 928–31.
  5. Shrestha GS, Khanal A, Paudel S. Avoiding iatrogenic harm by integrating physical examination findings with a point-of-care lung ultrasonography. Indian J Crit Care Med. 2015; 19(4): 243–4.
sumber:dari berbagai sumber

Author: 

Related Posts PEMERIKSAAN FISIK PARU