PNEUMONIA

Category : Kesehatan
PNEUMONIAby widya don.PNEUMONIA PENGERTIAN Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) (Silalahi. L, 2004). Menurut Fauzi (2006) pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Menurut Price dan Wilson (2006) pneumonia adalah peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. Menurut Sudoyo.A.W, dkk (2006) […]
 PENGERTIAN
  • Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) (Silalahi. L, 2004).
  • Menurut Fauzi (2006) pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
  • Menurut Price dan Wilson (2006) pneumonia adalah peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi.
  • Menurut Sudoyo.A.W, dkk (2006) Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
  • Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya  kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA (P2ISPA) semua bentuk  pneumonia  baik  pneumonia  maupun bronchopneumonia disebut pneumonia (Depkes RI, 2002).
  • Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Napas sesak ditandai dengan dinding dada bawah tertarik ke dalam, sedangkan napas cepat diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu menit. Untuk balita umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya 40 kali atau lebih dalam satu menit, balita umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan napasnya 50 kali atau lebih per menit, dan umur kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali atau lebih per menit (Depkes, 1991).
  • Menurut kamu saku kedokteran DORLAND, Pneumonia adalah radang paru – paru disertai eksudasi dan konsolidasi.
  • Pneumonia adalah penyakit saluran napas bawah (lower respiratory tract (LRT)) akut, biasanya disebabkan oleh infeksi (Jeremy, 2007).
  1. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Pada anak balita yaitu :
  1. umur,
  2. jenis kelamin
  3. status gizi
  4. riwayat BBLR
  5. status imunisasi
  6. status pemberian ASI
  7. polusi udara
  8. kepadatan hunian
  9. membedong anak (menyelimuti berlebihan)
(Prabu, 2009) Faktor yang meningkatkan angka kematian pada pneumonia yaitu :
  1. umur kurang dari 2 bulan,
  2. tingkat sosio ekonomi rendah,
  3. kurang gizi,
  4. BBLR,
  5. tingkat pendidikan ibu yang rendah,
  6. tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah,
  7. kepadatan tempat tinggal,
  8. imunisasi yang tidak memadai,
  9. menderita penakit kronis,
(Depkes RI, 2002).
  1. PENYEBAB
Pneumonia umumnya disebabkan oleh :
  • bakteri,
  • virus,
  • mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus)
Masuknya mikroorganisme ke saluran napas dan paru dapat memlalui berbagai cara:
  • Inhalasi langsung dari udara
  • Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring
  • Perluasan langsung dari tempat-tempat lain
  • Penyebaran secara hematogen (Supandi, 1992).
  Daftar mikroorganisme yang menyebabkan pneumonia
Infeksi Bakteri Infeksi Atipikal Infeksi Jamur
Streptococcus pneumoniae Haemophillus influenza Klebsiella pneumonia Pseudomonas aeruginosa Gram-negatif (E.Coli) Mycoplasma pneumonia Legionella pneumophillia Coxiella burnetii Chlamydia psittaci Aspergillus Histoplasmosis Candida Nocardia
Infeksi Virus Infeksi Protozoa Penyebab Lain
Influenza Coxsackie Adenovirus Sinsitial respiratori Pneumocytis carinii Toksoplasmosis Amebiasis Aspirasi Pneumonia lipoid Bronkiektasis Fibrosis kistik
Sumber: Jeremy, 2007        
Group Penyebab Tipe Pneumonia
Bakteri Streptokokus pneumonia Streptokokus piogenesis Stafilokokus aureus Klebsiela pneumonia Eserikia koli Yersinia pestis Legionnaires bacillus Pneumoni bakterial           Legionnaires disease
Aktinomisetes Aktinomisetes Israeli Nokardia asteroides Aktinomisetes pulmonal Nokardia pulmonal
Fungi Kokidioides imitis Histoplasma kapsulatum Blastomises dermatitidis Aspergilus Fikomisetes Kokidioidomikosis Histoplasmosis Blastomikosis Aspergilosis Mukormikosis
Riketsia Koksiela burneti Q fever
Klamidia Chlamydia trachomatis Chlamydial Pneumonia
Mikoplasma Mikoplasma pneumonia Pneumonia mikoplasmal
Virus Influenza virus, adeno Virus respiratory Syncytial Pneumonia virus
Protozoa   Pneumositis karini Pneumonia pneumosistis (pneumonia plasma sel)
Sumber : Alsagaff dan Mukty, 2010.   Beberapa penyebab pneumonia adalah :
  • Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut jantungnya meningkat cepat (Misnadiarly, 2008).
  • Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV). Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas, pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian (Misnadiarly, 2008).
  • Mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia, tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati (Misnadiarly, 2008).
  • Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru (Djojodibroto, 2009). Cara Penularan Penyakit Pneumonia : Pada umumnya pneumonia termasuk kedalam penyakit menular yang ditularkan  melalui udara. Sumber penularan adalah penderita pneumonia yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab pneumonia kedalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup, di samping itu terdapat juga cara penularan langsung  yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita (Azwar, 2002). Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara atau kuman ditenggorokan terhisap masuk ke paru-paru. Penyebaran juga bisa melalui darah dari luka tempat lain, misalnya dikulit. Jika melalui saluran nafas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh berbagai sistem pernafasan tubuh manusia, misalnya dengan batuk-batuk atau oleh perlawanan sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia). Untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar kecilnya ukuran penyebabnya (Ranuh, 2006).
  1. GEJALA
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala (Misnadiarly, 2008). Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari, selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celcius, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga menemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, sakit kepala, nyeri otot, kelemahan, muntah-muntah, tekanan atau stress, dan mengeluarkan bunyi yang abnormal ketika bernafas (Arief. N, 2006). Menurut WHO (2003), klasifikasi pneumonia dibagi atas :
  1. Pneumonia sangat berat
Tanda klinisnya adalah : batuk atau kesulitan bernafas yang disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum dan disertai penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam  (severe chest indrawing).
  1. Pneumonia berat
Tanda klinisnya adalah : berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu  dengan baik), kejang rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak yang tenang, mengi’, demam (38º c atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (dibawah 35,5º c), pernapasan cepat 50 kalipermenit atau lebih, batuk atau kesulitan bernafas tanpa disertai sianosis sentral, grunting, serangan apnea, distensi abdomen, dapat minum, dan disertai penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (severe chest indrawing).
  1. Pneumonia
Tanda klinisnya adalah : batuk (atau kesulitan bernafas) tanpa penarikan dinding dada dan disertai pernafasan cepat. Batas nafas cepat ialah untuk usia kurang 1 tahun aalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1-4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
  1. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek biasa)
Tanda klinis adalah : batuk (atau kesulitan bernafas), tanpa pernafasan cepat, atau tanpa penarikan dinding dada, dan tidak tanda-tanda pneumonia.  
  1. Pneumonia persisten
Tanda klinisnya adalah : penarikan dinding dada, frekuensi pernafasan yang tinggi, dan demam ringan. Penyebab yang mungkin adalah tuberkulosis, pneumonia clhamedia, dan pneumonia pneumokistik.
  1. PENGOBATAN
  2. Pengobatan Pneumonia
Pengobatan utama pneumonia padajenis pneumonianya (penyebab) dan tingkat keparahannya, sehingga ada yang hanya perlu rawat jalan, namum beberapa perlu perawatan inap di rumah sakit atau klinik.
  1. Mengobati ppneumonia yang disebabkan infeksi bakteri
Antibiotik digunakan untuk mengobati jenis pneumonia ini. Antibiotik harus diberikan dengan pengarahan. Jika antibiotik berhenti sebelum pengobatan selesai, pneumonia dapat kambuh kembali. Kebanyakan pasien akan membaik setelah 1-3 hari pengobatan.
  1. Mengobati Pneumonia yang disebabkan infeksi virus
Antibiotik tidak berguna jika virus adalah penyebab pneumonia. Namun, obat antivirus dapat membantu mengatasi kondisi tersebut. Gejala biasanya membaik dalam waktu satu sampai tiga minggu.
  1. Cara mengobati penyakit pneumonia dengan alami
Bahan :
  • Daun komfrey segar 4 lembar
  • Garam secukupnya
  • Air 4 gelas
Pemakaian: Cara pertama, lemaskan daun komfrey dengan garam, lalu dicuci. Makan 2 kali sehari sebagai lalap. Cara kedua, daun komfrey dijus, lalu sarinya diminum untuk 2 kali sehari, cara ketiga rebus daun komfrey dalam 4 gelas air hingga tersisa 3 gelas kemudian airnya diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas.
  1. TINDAKAN
Menurut WHO (2003) penatalakasanaan pnumonia terdiri dari :
  1. Pneumonia sangat berat
Penatalaksanaannya melalui cara :
  1. Rawat dirumah sakit
  2. Berikan oksigen
  3. Terapi antibiotik dengan cara memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral. Berikan kloramfenikol paling selama 10 hari. Jika kloramfenikol tidak tersedia, berikan benzilpensilin ditambah dengan golongan aminoglikosida (contohnya, gentamisin). Kloramfenikol juga efektif untuk meningitis bakterialis, yang dapat terjadi pada anak dengan pneumonia. Diduga pneumonia stafilokokus jika terdapat tanda perburukan klinis walaupun diberikan pengobatan dengan kloramfenikol, atau hasil foto rontgen dada memperlihatkan gambaran pneumatokel atau empiema. Pneumonia stafilokokus sebaiknya diobati dengan kloksasilin (atau fluklosasilin, oksasilin, nafsilin, atau methisilin) ditambah gentamisin , paling sedikit diberikan selama 3 minggu
  4. Obati demam dengan cara efektif dengan memberikan parasetamol. Beri parasetamol jika suhu aksila lebih dari 39ºc,  kecuali pada bayi muda : 10 sampai 15 mg per kg berat badan per oral, setiap 6 jam. Menyeka dengan air suam-suam kuku atau air dingin sebaiknya tidak dilakukan karena hal tersebut akan meningkatkan konsumsi oksigen dan meningkatkan produksi karbon dioksida yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan pada anak yang menderita pneumonia
  5. Obati mengi dengan memberikan bronkodilator kerja singkat (seperti salbutamol yang diuapkan) kemudian nilai responnya setelah 15 menit jika diperlukan, pemberiannya dapat diulang.
  6. Perawatan suportif melalui :
a).Makanan, dimana anak dengan pneumonia berat dapat mengalami kesulitan makan karena adanya pernafasan cepat atau sulit bernafas. Anjurkan anak untuk sering makan-makanan ringan dan tetap terus minum ASI. Membiarkan ibu tetap tinggal bersama anaknya dirumah sakit merupakan hal yang penting dan jangan memaksa anak untuk makan. b).Cairan, peningkatan kehilangan cairan terjadi selama infeksi pernafasan akut, khususnya jika terdapat pernafasan cepat atau demam. Kehilangan cairan dari paru terutama terdiri dari air. Oleh karena itu, untuk mengganti cairan pada anak tanpa disetai diare. Berikan ASI, air bersih, minum susu, dan cairan lain yang berkadar garam rendah. c).Sekresi, karena banyak bayi yang tidak dapat bernafas dengan normal melalui mulut, sumbatan pada hidung yang padat menyebabkan gawat pernafasan dan kesulitan pemberian ASI. Gunakan spuit plastik (tanpa jarum) untuk menghisap dengan hati-hati adanya secret hidung jika diperlukan untuk menghasilkan jalan nafas. Gunakan tetes hidung isotonis jika hidung tersumbat oleh mukus yang kering. d).Suhu lingkungan, tidak membuat suhu terlalu panas atau dingin pada anak yang menderita pneumonia merupakan hal yang penting. Tekanan panas dan dingin dapat meningkatkan produksi karbon dioksida dan mencetuskan terjadinya kegagalan pernafasan. Suhu lingkungan yang netral memperkecil konsumsi oksigen.
  1. Hati-hati dengan pemberian terapi cairan
Anak yang menderita pneumonia berat dapat mensekresi hormon anti diuretik (ADH) dalam jumlah besar secara tidak sesuai dan berisiko terjadi kelebihan cairan serta edema paru. Oleh karena itu jika anak dalam keadaan shock, sebaiknya hindari pemberian cairan intravena dan sebagai gantinya dapat diberikan secara oral atau dengan selang nasogastrik.
  1. Nilai ulang setiap 2 jam oleh perawat dan setiap 2 kali sehari oleh dokter.
Apabila anak memiliki respon buruk terhadap pengobatan : maka periksa adanya komplikasi seperti empiema dimana terdapat demam persisten, perkusi yang pekak, adanya cairan pleura pada pemeriksaan sinar X. Gagal jantung, jika adanya pembesaran hati, denyut jantung > 160 x/menit, pembeseran jantung, bunyi murmur jantung, tekanan vena yang tinggi, pengaliran darah yang buruk ke ekstermitas, bronkospasme. Antibiotika diganti dengan kloksasilin ditambah dengan gentamicin jika diduga adanya pneumonia stafilokokus. Bila pneumonia menetap lebih dari 10 hari walaupun telah diberi therapi antibiotik, pertimbangkan penyebab pneumonia persisten.
  1. Pneumonia Berat
Penatalaksanaannnya dengan cara :
  1. Rawat di rumah sakit
  2. Apabila perawatan untuk semua anak dengan penarikan dinding dada tidak memungkinkan dapat dipertimbangkan untuk memberikan terapi antibiotika di rumah dengan pengawasan yang ketat pada anak yang tidak mengalami penarikan dinding dada yang hebat, sianosis, atau tanda penyakit yang sangat berat.
  3. Berikan oksigen jika frekuensi pernafasan > 70 x/menit, terdapat penarikan dinding dada yang hebat atau gelisah.
  4. Terapi antibiotika dengan memberikan benzilpenisillin/ampisilin  secara intra muskuler setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari. Setelah anak membaik ganti dengan ampisilin atau amoksilin oral
   
  1. PENCEGAHAN
Menurut Dinkes DKI (2005) Pencegahan penyakit Pneumonia dapat dilakukan dengan cara meningkatkan tahap menjaga kesehatan, seperti :
  1. pemberian ASI eksklusif,
  2. menjauhi tempat yang sesak dan berdebu,
  3. mengutamakan tempat tinggal yang bersih, pengadaan rumah dengan ventilasi yang memadai,
  4. perbaikan lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat.
  5. Peningkatan gizi balita dengan pemberian nutrisi yang baik,
  6. istirahat yang cukup,
  7. menghindari kontak dengan penderita,
  8. menghindari pajanan asap rokok, asap dapur dan asap kendaraan bermotor,
  9. menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan ketika batuk dan bersin,
  10. pemberian imunsasi DPT dan campak sesuai jadwal,
  11. penderita yang sakit harus berobat dan menghindari kontak dengan orang sehat.
Vaksinasi dapat membantu mencegah sebagian jenis bakteri pada golongan anak-anak dan golongan dewasa yang berisiko. Vaksin yang diberikan adalah :
  1. Suntikan Pneumococal untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh streptoccus pneumonia.
  2. Vaksin influenza
  3. Vaksin Hib untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh influenza haemopilus jenis B. Vaksin ini diberikan pada bayi dan anak-anak yang berusia diantara 2 sampai 15 bulan (Fauzi, 2006).
Selain itu, vaksin pnumococcal polusaccharide mampu memberi pertahanan terhadap kuman streptococcus pneumonia, bakteri yang dikenal pasti sebagai penyebab meningitis dan radang paru-paru. Vaksin itu juga untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh kuman streptococcus pneumonia dikalangan anak-anak berusia 2 tahun keatas dan orang tua yang mengalami penyakit-penyakit kronik(Fauzi, 2006). Program Pemberantasan Penyakit ISPA Program P2ISPA merupakan program yang menangani masalah ISPA yang ditujukan pada kelompok balita.
  1. Mengumpulkan dan menganalisa data penyakit
  2. Melaporkan kasus penyakit menular
  3. Menyembuhkan penderita sehingga tidak lagi menjadi sumber infeksi
  4. Pemberian imunisasi
  5. Pemberantasan vektor
  6. Memberikan penyuluhan kesehatan
Masalah yang menjadi prioritas untuk ditanggulangi adalah pneumonia beserta komplikasinya. Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA. Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangan pneumonia (Sibarani, 1996)  
  1. KODEFIKASI PENYAKIT PNEUMONIA
J12            Viral pneumonia, not elsewhere classified Includes:  bronchopneumonia due to viruses other than influenza viruses Excludes: congenital rubella pneumonitis (P35.0) pneumonia:
  • aspiration (due to):
  • NOS (J69.0)
  • anaesthesia during:
  • labour and delivery (O74.0)
  • pregnancy (O29.0)
  • puerperium (O89.0)
  • neonatal (P24.9)
  • solids and liquids (J69.-)
  • congenital (P23.0)
  • in influenza (J10.0, J11.0)
  • interstitial NOS (J84.9)
  • lipid (J69.1)
severe acute respiratory syndrome [SARS] (U04.9) J12.0         Adenoviral pneumonia J12.1         Respiratory syncytial virus pneumonia J12.2         Parainfluenza virus pneumonia J12.8         Other viral pneumonia J12.9         Viral pneumonia, unspecified J13           Pneumonia due to Streptococcus pneumoniae Bronchopneumonia due to S. pneumoniae Excludes: congenital pneumonia due to S. pneumoniae (P23.6) pneumonia due to other streptococci (J15.3–J15.4) J14           Pneumonia due to Haemophilus influenzae Bronchopneumonia due to H. influenzae Excludes: congenital pneumonia due to H. influenzae (P23.6) J15           Bacterial pneumonia, not elsewhere classified Includes:  bronchopneumonia due to bacteria other than S. pneumoniae and H. influenzae Excludes: chlamydial pneumonia (J16.0) congenital pneumonia (P23.-) Legionnaires' disease (A48.1) J15.0         Pneumonia due to Klebsiella pneumoniae J15.1         Pneumonia due to Pseudomonas J15.2         Pneumonia due to staphylococcus J15.3         Pneumonia due to streptococcus, group B J15.4         Pneumonia due to other streptococci Excludes: pneumonia due to:
  • streptococcus, group B (J15.3)
  • Streptococcus pneumoniae (J13)
J15.5         Pneumonia due to Escherichia coli J15.6         Pneumonia due to other aerobic Gram-negative bacteria Pneumonia due to Serratia marcescens J15.7         Pneumonia due to Mycoplasma pneumoniae J15.8         Other bacterial pneumonia J15.9         Bacterial pneumonia, unspecified J16           Pneumonia due to other infectious organisms, not elsewhere classified Excludes: ornithosis (A70) pneumocystosis (B59) pneumonia:
  • NOS (J18.9)
  • congenital (P23.-)
J16.0         Chlamydial pneumonia J16.8         Pneumonia due to other specified infectious organisms J17*         Pneumonia in diseases classified elsewhere J17.0*       Pneumonia in bacterial diseases classified elsewhere Pneumonia (due to)(in):
  • actinomycosis (A42.0†)
  • anthrax (A22.1†)
  • gonorrhoea (A54.8†)
  • nocardiosis (A43.0†)
  • salmonella infection (A02.2†)
  • tularaemia (A21.2†)
  • typhoid fever (A01.0†)
  • whooping cough (A37.-†)
J17.1*       Pneumonia in viral diseases classified elsewhere Pneumonia in:
  • cytomegalovirus disease (B25.0†)
  • measles (B05.2†)
  • rubella (B06.8†)
  • varicella (B01.2†)
J17.2*       Pneumonia in mycoses Pneumonia in:
  • aspergillosis (B44.0–B44.1†)
  • candidiasis (B37.1†)
  • coccidioidomycosis (B38.0–B38.2†)
  • histoplasmosis (B39.-†)
J17.3*       Pneumonia in parasitic diseases Pneumonia in:
  • ascariasis (B77.8†)
  • schistosomiasis (B65.-†)
  • toxoplasmosis (B58.3†)
J17.8*       Pneumonia in other diseases classified elsewhere Pneumonia (in):
  • ornithosis (A70†)
  • Q fever (A78†)
  • rheumatic fever (I00†)
  • spirochaetal, not elsewhere classified (A69.8†)
J18           Pneumonia, organism unspecified Excludes: abscess of lung with pneumonia (J85.1) drug-induced interstitial lung disorders (J70.2–J70.4) pneumonia:
  • aspiration (due to):
  • NOS (J69.0)
  • anaesthesia during:
  • labour and delivery (O74.0)
  • pregnancy (O29.0)
  • puerperium (O89.0)
  • neonatal (P24.9)
  • solids and liquids (J69.-)
  • congenital (P23.9)
  • interstitial NOS (J84.9)
  • lipid (J69.1)
pneumonitis, due to external agents (J67–J70) J18.0         Bronchopneumonia, unspecified Excludes: bronchiolitis (J21.-) J18.1         Lobar pneumonia, unspecified J18.2         Hypostatic pneumonia, unspecified J18.8         Other pneumonia, organism unspecified J18.9         Pneumonia, unspecified[1]     [1] Extracted from ICD-10 Second Edition, 2005, Diseases of the respiratory system.

Author: 

Related Posts PNEUMONIA