TERMOREGULASI

Category : Askep
TERMOREGULASIby adminon.TERMOREGULASITERMOREGULASI Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. MEKANISME PENGELUARAN PANAS Pengeluaran dan produksi panas terjadi secara simultan.Struktur kulit dan paparan terhadap lingkungan secara konstan,pengeluaran panas secara normal melalui : 1. Radiasi Perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke objek lain […]
TERMOREGULASI Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. MEKANISME PENGELUARAN PANAS Pengeluaran dan produksi panas terjadi secara simultan.Struktur kulit dan paparan terhadap lingkungan secara konstan,pengeluaran panas secara normal melalui : 1. Radiasi Perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke objek lain tanpa keduanya bersentuhan.contohnya : melepaskan pakaian dan selimut. 2. Konduksi Perpindahan panas dari suatu objek ke objek lain dengan kontak langsung.Contohnya memberikan kompres es atau memandikan klien dengan air dingin. 3. Konveksi Perpindahan panas karena gerakan udara.Contohnya Kipas angin,AC,dan pendingin udara. 4. Evaporasi Perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas.contohnya : berkeringat. 5. Diaforesis Respirasi visual dahi dan torak atas.Contohnya : Bila suhu tubuh meningkat,kelenjar keringat mengeluarkan keringat yang menguap dari kulit untuk meningkatkan kehilangan panas. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH : 1. Usia Pada saat lahir,bayi meninggalkan lingkungan yang hangat,yang relatif konstan,masuk dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi dengan cepat. Mekanisme kontrol suhu masih imatur. Suhu tubuh bayi dapat berespon secara drastis terhadap perubahan suhu lingkunga n. Pakaian harus cukup dan paparan pada suhu yang ekstrim harus di hindari. Bayi baru lahir engeluaran lebih dari 30% panas tubuhnya melalui kepala dan oleh karena itu perlu menggunakan penutup kepala untuk mencegah pengeluaran panas. Bila terlindung dari lingkungan yang ekstrim, suhu tubuh bayi dipertahankan pada 35,50C – 39,50C. Produksi panas akan meningkat seiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. Perbedaan secara individu 0,250C – 0,550C adalah normal (Whaley and Wong 1995). Regulasi suhu tidak stabil sampai anak-anak mencapai pubertas tentang suhu normal turun secara berangsur sampai seseorang mendekati masa lansia. Lansia mempunyai rentang suhu tubuh yang lebih sempit dari ada dewasa awal. Suhu oral 350C tidak lazim pada lansia dalam cuaca dingin. Namun, rentang suhu tubuh pada lansia sekitar 360C. Lansia terutama sensitif terhadap suhu yang ekstrim karena kemunduran mekanisme kontrol, terutama pada kontrol vase motor (kontrol vase kontriksi dan vase dilatasi),penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas kelenjar keringat dan penurunan metabolisme. 2. Aktivitas Dalam olah raga, aktivitas otot memerlukan penigkatan suplay darah dan pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis olahraga dapat meningkatkan produksi panas segala jenis olahraga dapat meningkatkan produksi panas akibatnya meningkatkan suhu tubuh. Olah raga berat yang lama, seperti lari jarak jauh, dapat meningkatkan suhu tubuh untuk sementara sampai 410C. 3. Kadar Hormon Secara umum, wanita mengalami fruktuasi suhu tubuh yang lebih besar dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan fruktuasi suhu tubuh. Kadar progesteron meningkatkan dan menurunkan secara bertahap selama iklus menstruasi. Bila keadaan progesteron rendah, suhu tubuh beberapa derajat di bawah kadar batas. Suhu tubuh yang rendah berlangsung sapai terjadi ovulasi. Selama ovulasi jumlah progesteron yang lebih besar memasuki sistem sirkulasi dan meningkatkan suhu tubuh sampai kadar batas atau lebih tinggi. Variasi suhu ini dapat digunakan untuk memperkirakan masa paling subur pada wanita untuk hamil. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita selama menopause (penghentian menstruasi). Wanita yang sudah berhenti menstruasi dapat mengalami periode panas tubuh dan berkeringat banyak, 30 detik-5 menit. Hal tersebut karena kontrol vasomotor yang tidak stabil dalam melakukan vasodilatasi dan vasokontriksi (Bobak, 1993). 4. Irama sirkadian Suhu tubuh berubah secara normal 0,5oC sampai 1oC selama periode 24 jam. Bagaimana pun, suhu merupakan irama paling stabil pada manusia. Suhu tubuh biasanya paling rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari. Sepanjang hari, suhu tubuh naik, sampai sekitar pukul 18:00 dan kemudian turun seperti pada dini hari. Penting diketahui, pola suhu tidak secara otomatis berubah pada orang yang bekerja pada malam hari dan tidur di siang hari. Perlu waktu 1-3 minggu untuk perputaran tersebut berubah. Secara umum, irama suhu sirkadian tidak berubah sesuai usia. Penelitian menunjukkan, puncak suhu tubuh adalah dini hari pada lansia (Lenz, 1984). 5. Stres Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas saat masuk rumah sakit atau tempak praktik dokter, suhu tubuhnya dapat lebih tinggi dari normal. 6. Lingkungan Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan yang sangat hangat, klien mungkin tidak mkampu meregulasi suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran-panas dan suhu tubuh akan naik. Jika klien berada di lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang konduktif. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekanisme suhu mereka kurang efisien. KELELAHAN AKIBAT PANAS Kelelahan akibat panas terjadi jika diaporesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda dan gejala kurang volume cairan adalah hal yang umum selama kelelahan akibat panas. Tindakan pertama yaitu memindahkan klien ke lingkungan yang lebih dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan elektrolit. 1. Hipertemia Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan suhu tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah hipertermia. Setiap penyakit atau trauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Hipertemia malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas, yang terjadi ketika orang yang rentan menggunakan obat-obatan anestetik tertentu. 2. Heatstroke Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstoke, kedaluratan yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang tinggi. Klien beresiko termasuk yang masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskuler, hipotiroidisme, diabetes atau alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas ( misal: penotiazin, antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antogonis reseptor beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (misal: atlit, pekerja konstruksi dan petani). Tanda dan gejala heatstroke termasuk gamang, konfuksi, delirium, sangat haus, mual, keram otot, gangguan visual, dan bahkan inkontinensia. Tanda yang paling penting dari heatstroke adalah kulit berkeringat karena kehilangan elektrolit sangat berat dan malfungsi hipotalamus heatstroke. Dengan suhu lebih besar dari 40,5®C mengakibatkan kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang setinggi 40®C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ yang lebih dahulu terkena karena sensitifitasnya terhadap ketidak seimbangan elektrolit. Jika kondisi terus berlanjut klien menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktiv. Terjadi kerusakan neurologis yang permanent kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai. 3. Hipotermia Pengeluaran panas akibat paparan terus menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas, mengakibatkan hipotermia. Hipotermia diklarifikasikan melalui pengukuran suhu inti. Hal tesebut terjadi kebetulan atau tidak sengaja selama prosedur bedah untuk mengurangi kebutuhan selama prosedur bedah untuk mengurangi kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen. Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak diketahui selama beberapa jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35®C, klien mengalami gemetar yang tidak terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai. Jika suhu tubuh turun dibawah 34,4®C, frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan darah turun. Kulit menjadi sianotik. Jika hipotermia terus berlangsung, klien akan mengalami distrimia jantung, kehilangan kesadaran dan tidak responsif terhadap stimulus nyeri. Dalam kasus hipotermia berat, klien menunjukan gejala klinis yang mirip dengan orang mati(misalnya tidak ada respon terhadap stimulus dan nadi serta pernapasan sangat lemah). Pengkajian suhu inti tubuh penting bila diduga hipotermia. Termometer dengan bacaan khusus rendah mungkin dibutuhkan karena termometer standar tidak memiliki angka dibawah 35®C. Radang beku (frosbite) terjadi bila tubuh terpapar pada suhu dibawah normal. Kristal es yang terbentuk didalam sel dapat mengakibatkan kerusakan sirkulasi dan jaringan secara permanent. Daerah yang terutama rentan terhadap radang dingin adalah lobus telinga, ujung hidung, jari, dan jari kaki. Daerah yang cedera berwarna putih berlilin, dan keras jika tersentuh. Klien hilang sensasi pada daerah yang terkena. Intervensi termasuk tindakan memanaskan secara bertahap analgesik dan perlindungan area yang terkena. Bagaimana tubuh membuang panas yang berlebihan dari tubuh saat cuaca terik? Pengaturan suhu tubuh dalam keadaan panas: 1. Fisik • penambahan aliran darah permukaan tubuh • terjadi aliran darah maximum pada anggota badan 2. Keringat Pada saat suhu kulit menurun, maka set point meningkat. Bila suhu kulit meningkat pengeluaran keringat akan dimulai pada suhu hipothalamus yang lebih rendah, daripada ketika suhu kulit yang lebih rendah. Pengeluaran keringat akan dihambat ketika suhu kulit rendah. Jika tidak, efek gabungan dari rendahnya suhu kulit dan pengeluaran keringat dapat menyebabkan kehilangan panas tubuh yang lebih banyak. FISIOLOGI TERMOREGULASI Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu lingkungan. Suhu tubuh dihasilkan dari : 1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) 2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot akibat menggigil). 3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron). 4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan simpatis pada sel. 5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun. Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh dari fungsi yang terganggu hingga lingkungan yang ekstrim. Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan konstan. Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C). Selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 30°C sampai 40°C. PATOFISIOLOGI TERMOREGULASI Suhu tubuh secara normal dipertahankan pada rentang yang sempit, walaupun terpapar suhu lingkungan yang bervariasi. Suhu tubuh secara normal berfluktuasi sepanjang hari, 0,50 C dibawah normal pada pagi hari dan 0,5 0 C diatas normal pada malam hari.3 Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang mengatur keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Produksi panas tergantung pada aktivitas metabolik dan aktivitas fisik. Kehilangan panas terjadi melalui radiasi, evaporasi, konduksi dan konveksi. Dalam keadaan normal termostat di hipotalamus selalu diatur pada set point sekitar 370 C, setelah informasi tentang suhu diolah di hipotalamus selanjutnya ditentukan pembentukan dan pengeluaran panas sesuai dengan perubahan set point. Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah 1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat : Bila hipotalamus anterior menerima informasi suhu luar lebih tinggi dari suhu tubuh maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan vasodilatasi kulit dan menambah produksi keringat. • Vasodilatasi à disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior (penyebab vasokontriksi) sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak. • Berkeringat à pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. • Penurunan pembentukan panas à Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat. 2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun : Bila hipotalamus posterior menerima informasi suhu luar lebih rendah dari suhu tubuh maka pembentukan panas ditambah dengan meningkatkan metabolisme dan aktivitas otot rangka dalam bentuk menggigil dan pengeluaran panas dikurangi dengan vasokontriksi kulit dan pengurangan produksi keringat sehingga suhu tubuh tetap dipertahankan tetap. Hipotalamus anterior mengatur suhu tubuh dengan cara mengeluarkan panas. • Vasokontriksi à karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior. • Piloereksi à Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri. • Peningkatan pembentukan panas à sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin. Umumnya peninggian suhu tubuh terjadi akibat peningkatan set point. Infeksi bakteri menimbulkan demam karena endotoksin bakteri merangsang sel PMN untuk membuat pirogen endogen yaitu interleukin-1, interleukin 6 atau tumor nekrosis faktor. Pirogen endogen bekerja di hipotalamus dengan bantuan enzim siklooksigenase membentuk protaglandin selanjutnya prostaglandin meningkatkan set point hipotalamus. Selain itu pelepasan pirogen endogen diikuti oleh pelepasan cryogens (antipiretik endogen) yang ikut memodulasi peningkatan suhu tubuh dan mencegah peningkatan suhu tubuh pada tingkat yang mengancam jiwa. ASKEP TERMOREGULASI I. Pengkajian Data Subjektif  pasien mengemukakan derajat temperatur tubuhnya meningkat atau menurun  pasien mengekspresikan perasaan panas atau hangat atau dingin & menggigil  pasien mengatakan alat bantu apa yang dia gunakan bila kedinginan (misal : sweater atau selimut)  pasien dapat mengemukakan faktor resiko terjadinya hipertermi atau hipotermi. Misal : masalah metabolisme karena kanker atau ketidakseimbangan hormon; integritas kulit; riwayat penyakit kronis seperti penyakit paru dan jantung; obat obat yang dikonsumsi faktor resiko lain yang dapat diidentifikasi adalah lingkungan dimana pasien berada atau tinggal.  Pasien mengemukakan lamanya hipertermi atau hipotermi dialami yaitu andermitten , remitten atau relapsing Data Objektif :  perubahan yang terjadi pada permukaan kulit baik warna, kelembaban, secara lokal atau sistemik.  tingkat kesadaran  berat badan  status hidrasi dan nutrisi II. Diagnosa Keperawatan 1. resiko perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan :  Pakaian tidak sesuai  Cidera sistem saraf pusat  Paparan terhadap lingkungan ( panas dingin)  Kerusakan sistem termoregulasi 2. Termoregulasi tidak efektif yang berhubungan dengan :  Imaturitas  Perubahan fisiologis  Penuaan  Cedera sistem saraf pusat  Suhu lingkungan 3. hipotermia yang berhubungan dengan :  Penurunan kecepatan metabolik  Pakaian tidak adekuat  Paparan terhadap lingkungan dingin  Ketidakmampuan untuk menggigil  Konsumsi obat atau alkohol  Inaktifitas  Penuaan 4. hipertermia yang berhubungan dengan :  Peningkatan laju metabolik  Pakaian tidak sesuai  Paparan terhadap lingkungan panas atau dingin  Tidak dapat berkeringat  Medikasi  Aktifitas berat dan banyak  Proses infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri III. Intervensi 1. pendidikan kesehatan pada klien tentang penyebab, cara mengatasi, dan mencegah gangguan termoregulasi 2. penatalaksanaan pasien panas • selama menggigil  Untuk meningkatkan rasa nyaman, pasien dapat diberikan selimut atau pakaian ekstra  Berikan intake cairan yang adekuat  Observasi tanda tanda vital  Selama terjadi peningkatan suhu  Berikan pakaian tipis  Berikan intake cairan yang adekuat  Tingkatkan istirahat pasien  Jaga kelembaban bibir dan mukosa hidung  Berikan cooling sponge bath  Tingkatkan sirkulasi udara untuk meningkatkan rasa nyaman pasien  Lakukan tindakan pencegahan injury pasien gelisah atau terjadi kejang  Dorog pasien untuk mendapatkan intake oral  Batasi aktifitas  Pakaikan baju dan selimut yang tipis IV. Implementasi  1. memberikan pendidikan kesehatan pada klien tentang penyebab, cara mengatasi, dan mencegah gangguan termoregulasi  2. penatalaksanaan pasien panas • selama menggigil  memberikan selimut atau pakaian ekstra  memberikan intake cairan yang adekuat  mengobservasi tanda tanda vital • Selama terjadi peningkatan suhu  memberikan pakaian tipis  memberikan intake cairan yang adekuat  meningkatkan istirahat pasien  menjaga kelembaban bibir dan mukosa hidung  memberikan cooling sponge bath  meningkatkan sirkulasi udara untuk meningkatkan rasa nyaman pasien  melakukan tindakan pencegahan injury pasien gelisah atau terjadi kejang  mendorong pasien untuk mendapatkan intake oral  membatasi aktifitas  memakaikan baju dan selimut yang tipis V. Evaluasi Data Subjektif :  pasien mengemukakan derajat temperatur tubuhnya normal  pasien mengekspresikan perasaan nyaman dan tidak menggigil  pasien mengatakan sudah tidak menggunakan alat bantu yang dia gunakan bila kedinginan (misal : sweater atau selimut)  pasien dapat mengemukakan faktor resiko terjadinya hipertensi atau hipotermi sudah tidak dirasakan lagi. Data Objektif :  kondisi nampak normal pada permukaan kulit baik warna, kelembaban, secara lokal atau sistemik.  tingkat kesadaran pasien berada pada composmentis  berat badan sesuai dengan bb idealnya  status hidrasi dan nutrisi baik dan normal Pola demam : Terus menerus : tingginya menetap lebih dari 24 jam bervariasi 1oC – 2oC. Intermiten : demam memuncak secara berseling dengan suhu normal. Suhu kembali normal paling sedikit sekali dalam 24 jam. Remiten : demam memuncak dan turun tanpa kembali ke tingkat suhu normal. Relaps : periode episode demam diselingi dengan tingkat suhu normal, episode demam dan normotemia dapat memanjang lebih dari 24 jam. Suhu tubuh normal sesuai tingkatan umur : Umur Suhu (derajat celcius) 3 bulan : 37,5 1 tahun : 37,7 3 tahun : 37,2 5 tahun : 37,0 7 tahun : 36,8 9 tahun : 36,7 13 tahun : 36,6 Intervensi keperawatan untuk klien dengan demam diantaranya : 1. Memantau tanda-tanda vital. 2. Menilai warna kulit dan suhu. 3. Memonitor jumlah sel darah putih, hematokrit nilai dan laporan terkait laboratorium lainnya untuk indikasi infeksi atau dehidrasi. 4. Menghapus kelebihan selimut ketika klien merasa hangat, tetapi memberikan kehangatan ekstra ketika klien merasa dingin. 5. Memberikan gizi yang memadai dan cairan (misalnya, 2500-3000 ml per hari) untuk memenuhi kebutuhan metabolik yang meningkat dan mencegah dehidrasi. Klien yang berkeringat berlebih dapat menjadi dehidrasi. 6. Mengukur asupan dan output. 7. Mengurangi aktivitas fisik untuk membatasi produksi panas, terutama selama tahap flush. 8. Mengelola antipiretik (obat-obatan yang mengurangi tingkat demam) seperti yang 9. Diperintahkan. 10. Memberikan kebersihan mulut untuk menjaga selaput lembab. Mereka dapat menjadi kering dan pecah-pecah akibat kehilangan cairan berlebihan. 11. Menyediakan spons mandi hangat untuk meningkatkan kehilangan panas melalui konduksi. 12. Menyediakan pakaian kering dan linen tempat tidur. Mengukur suhu dengan menggunakan tangan pada dahi, pipi, atau perut anak bukanlah cara yang baik untuk mengukur demam. Anda sebaiknya mengukur peningkatan suhu pada anak menggunakan termometer untuk meyakinkan bahwa anak Anda terkena demam. Jenis termometer di antaranya adalah termometer raksa, termometer digital, dan termometer timpanik yang diletakkan pada telinga. Cara pengukuran termometer raksa di antaranya adalah : 1. Untuk bayi dan balita: Pengukuran terbaik menggunakan termometer yang diletakkan pada ketiak. Taruh ujung termometer pada pertengahan ketiak, pegang dengan satu tangan dan gunakan tangan yang lain untuk menahan lengan bayi agar tidak terbuka. Tahan termometer selama tiga hingga empat menit. 2. Usia lima tahun keatas: Pengukuran terbaik adalah dengan menggunakan termometer yang diletakkan pada mulut. Apabila anak baru makan sesuatu yang dingin atau panas, tunggu 10 menit baru mengukur suhu. Baringkan anak Anda, taruh termometer di bawah lidahnya, beritahukan kepada anak Anda untuk menutup mulutnya namun jangan menggigit. Tahan termometer selama dua hingga tiga menit. Tips tepat bagaimana menangani demam pada anak : 1. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mengukur suhu tubuh si kecil, menggunakan thermometer, yang cocok/sesuai dengan usianya : a. Untuk bayi baru lahir hingga usia 2 tahun. Pilihan pertama adalah thermometer yang digunakan melalui anus dan piliha kedua adalah thermometer yang digunakan melalui ketiak; b. Untuk anak usia 2-5 tahun. Pilhan pertama adalah Thermometer yang digunakan melalui anus dan pilihan kedua adalah thermometer yang digunakan melalui telinga; c. Untuk anak usia lebih dari 5 tahun, pilihan pertama adalah themermoter yang digunakan melalui mulut dan pilihan kedua adalah thermometer yang digunakan melalui ketiak. 2. Pastikan Anak Banyak Minum. Demam berkepanjangan bisa menyebabkan dehidrasi. Jadi, tetaplah menyusui atau memberikannya susu formula. Boleh juga memberikan minuman berelektrolit jika anak sudah besar. Jenis obat pada anak-anak dan dewasa tidak sama. Berikut pemilahannya: 1. Anak-anak sampai usia 3 bulan jangan dilakukan pengobatan sembarangan. 2. Anak-anak usia 3 bulan ke atas menggunakan Paracetamol (Acetaminophen). Mulai usia 6 bulan ke atas, paracetamol dapat dikombinasikan dengan ibuprofen untuk menghentikan peradangan. 3. Orang dewasa bisa menggunakan Paracetamol atau Aspirin. Jangan pernah menggunakan aspirin untuk menurunkan demam anak. Pengeluaran Panas : 1. Radiasi Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan (Thibodieoau dan Patton, 1993). 2. Konduksi Konduksi adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak langsung. 3. Konveksi Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara. 4. Evaporasi Evaporasi adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas. 5. Diaforesis Diaforesis adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. CARA PENURUNAN SUHU: KOMPRES Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan. Tujuan pemberian kompres : A. Kompres Panas  Memperlancar sirkulasi darah  Mengurangi rasa sakit  Memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien  Merangsang peristaltik usus B. Kompres Dingin  Menurunkan suhu tubuh  Mencegah peradangan meluas  Mengurangi kongesti  Mengurangi perdarahan setempat  Mengurangi rasa sakit pada daerah setempat Berikut ini adalah manfaat kompres : A. Kompres Dingin Kompres ini menggunakan es batu atau bisa juga dengan menggunakan handuk yang direndam ke dalam air es (dingin). Kompres ini dapat membantu dalam pembengkakan karena trauma atau mengontrol pendarahan. Selain itu kompres dingin juga berguna untuk menurunkan aktivitas ujung syaraf pada otot dan mengurangi nyeri. B. Kompres Hangat Kompres ini menggunakan kantong karet yang diisi air hangat atau handuk yang telah direndam air hangat. Kompres hangat dapat membuat otot tubuh lebih rileks, mengurangi rasa nyeri, memperlancar aliran darah, dan menurunkan demam. Prosedur pemberian kompres : 1. Mengkaji/ mengidentifikasi kebutuhan klien. 2. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan. 3. Menyiapkan alat-alat sesuai dengan kebutuhan klien :  Waskom berisi air hangat 32oC  Waslap atau handuk kecil (3 – 5 buah sesuai kebutuhan)  Pengalas (handuk + perlak) 2 buah sesuai kebutuhan  Termometer air untuk mengukur suhu air  Termometer axila  Selimut ekstra  Catatan 4. Alat-alat didekatkan pada klien. 5. Pasang sampiran dan perawat cuci tangan. 6. Pasang selimut ekstra (jika akan memberikan kompres pada daerah inguinal) dan pasang pengalas sampai di bawah bokong klien. 7. Lepaskan pakaian klien. 8. Jika kompres hanya diberikan pada daerah kepala dan axila, pasang pengalas di bawah kepala dan kedua lengan klien. 9. Masukan waslap atau handuk kecil ke dalam waskom yang berisi air hangat, kemudian agak diperas. 10. Pasang kompres pada daerah : dahi, ketiak, inguinal/ lipat paha. 11. Dilakukan berulang-ulang sampai 15-20 menit. 12. Observasi klien selama dilakukan tindakan. Angkat alat-alat dari klien dan bereskan. 13. Cek suhu klien dengan memasang termometer axila. 14. Perawat cuci tangan. 15. Mencatat hasil tindakan, beserta respon klien atau hasil pengukuran. 16. Rapikan alat-alat. SURFACE COOLING Zaman dulu, untuk mengompres umumnya digunakan air dingin atau es. Ternyata cara itu kini sudah ditinggalkan. Sebab, kalau tubuh dikompres es atau air dingin, suhunya tak turun, malah makin tinggi. Ini terjadi karena mekanisme tubuh yang sedemikian rupa, di mana jika kondisi di luar dingin, maka tubuh akan menginterpretasi- kan kalau dirinya kurang panas. Akibatnya, tubuh pun akan tambah panas. Selain itu, efek dingin bisa membuat pembuluh darah di permukaan kulit jadi mengecil. Alhasil, panas yang seharusnya dialirkan oleh darah ke kulit agar keluar, terhalang karena jalannya terhambat. “Kompres dingin juga bisa membuat pusat pengaturan panas dalam tubuh jadi kacau. Saraf-saraf yang digunakan untuk melihat atau memantau suasana di luar tubuh menangkap kesan, di luar tubuh dingin, sehingga tubuh pun akan bertambah panas.Kendati kompres dingin sudah tidak lagi dianjurkan karena berdampak negatif, Tapi tak sepenuhnya ditinggalkan. Untuk sejumlah kasus semisal luka memar dan bakar, kompres air dingin masih kerap digunakan. Bahkan air dingin disiram- kan ke tubuh korban luka bakar. Air Hangat Saat ini yang lazim digunakan adalah kompres dengan air hangat atau suam-suam kuku. “Ini cara terbaik untuk menurunkan panas. Sebab, kalau suhu di luar tubuh terasa hangat, maka tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu di luar cukup panas. Dengan demikian, tubuh anak akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otaknya, supaya suhu tubuhnya jangan terlalu panas. Jadi, kebalikan dari kompres air dingin, tubuh yang panas akan semakin panas, karena tubuh menganggap di luar suhunya dingin. Tetap Harus Mandi Cara mengompres dengan air hangat yang paling efektif adalah memandikannya dengan air hangat. Anak yang sakit,harus dimandikan, dicelup, atau dibilas dengan air hangat. Bukan sekadar melap tubuh atau kepala anak dengan handuk hangat. Kalau perlu, anak yang sakit dimasukkan ke dalam bak mandi beri air hangat. Cara ini terbukti sangat membantu untuk menurunkan panas badan anak. Tempat Tepat Kembali ke soal kompres, pada prinsipnya mengompres adalah memberi kemungkinan agar panas yang ada dalam tubuh dapat mengalir keluar. Panas keluar melalui tempat-tempat di mana pembuluh darah besar yang dekat dengan kulit berada, seperti di leher, ketiak, dan selangkangan. Jangan di dahi karena tak banyak manfaatnya untuk menurunkan panas.Kalau hanya dahi yang dikompres, Yang dingin cuma dahinya, sementara tubuhnya tetap panas.

Author: 

Related Posts TERMOREGULASI